Senin, 16 Agustus 2010

Suasana HUT RI Ke-65 di Motoling

Makna Kemerdekaan untuk Indonesia
Bulan Agustus sangatlah identik dengan beragam kegiatan diantaranya Upacara Bendera 17 Agustus,
berkumandangnya lagu Indonesia Raya, detik‐detik Proklamasi, gelora salam Merdeka, derap langkah
nasionalisme, renungan jasa para pahlawan, tabur bunga dimakam pahlawan, berkobarnya semangat persatuan,
panjat pinang, lomba makan kerupuk, hiburan musik, perlombaan olah raga, serta berbagai kegiatan mengisi hari
kemerdekaan.
Begitu juga yang di rasakan oleh warga desa Motoling yang sangat antusias mengikuti jalannya Upacara Bendera di Lapangan Sam Ratulangi Motoling Dua setelah itu menyaksikan jalannya pawai dan Lomba Gerak Jalan yang belangsung di sepanjang ruas jalan Motoling Raya.
Rakyat Indonesia sangatlah menjunjung tinggi arti kata kemerdekaan yang patut kita peringati setiap tahunnya
karena itu sebagai bentuk rasa bersyukur atas segala yang kita nikmati saat ini. Kalau sedikit kita mengingat masa
lalu dimana para pejuang berani mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membela negara Indonesia agar
terbebas dari segala penjajahan. Keterpurukan Indonesia saat itu sangatlah memprihatinkan, atau sekilas kita
melihat film dilayar televisi yang diulang kembali sekedar mengingatkan kepada masayarakat Indonesia tentang
para pejuang yang tengah membela bangsa itu tidaklah mudah.
Sungguh berani mereka, dengan semangat seluruh tumpah jiwa raganya hanya untuk kemerdekaan rakyat
Indonesia. Dan saat ini sebagai generasi penerus bangsa, hanya tinggal menikmati dan mengisi kemerdekaan ini
dengan apa yang sudah didapatkan dalam arti menjadi orang yang tangguh, bekerja keras, ikhlas, jujur, cerdas,
bermanfaat untuk keluarga, lingkungan dan menjadi pemuda pemudi harapan bangsa.
Tetapi tidak semua hal yang diinginkan negara Indonesia dapat terwujud, karena banyak sekali tangan‐tangan
jahat penghianat bangsa selain dari berbagai bencana yang melanda negeri ini, munkin kalau bencana alam dapat
kita pahami karena itu semua faktor dari alam itu sendiri, tapi kalau bencana lingkungan itu karena dampak dari
manusia‐manusia yang tidak bisa selaras dengan lingkungan yang harus kita jaga dan lestarikan.Selain itu juga
bangsa ini merasa rapuh karena akibat dari sebuah dosa besar yang bernama korupsi dan menjadi budaya.
Ditambah lagi pemuda harapan bangsa yang menghancurkan harapan itu sendiri karena terhasut akan segala
tindakan yang tidak sesuai dengan norma dan susila. Bom‐bom yang meledak yang dilakukan anak bangsa yang
sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan hanya mengikuti perintah yang sama sekali tidak
bertanggung jawab yang menghancurkan karakteristik bangsa Indonesia dimata dunia.
Meskipun banyak hal yang membuat kemerdekaan Indonesia ternodai oleh hal yang tidak terpuji, tapi jangan
sampai kehilangn makna kemerdekaan itu sendiri karena makna kemerdekaan adalah merupakan awal
terwujudnya mimpi membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk kesejahteraan rakyat. Menjaga
keamanan seluruh warga dalam lindungan TYME dan sistem hukum yang adil dan kokoh.Yang lebih penting
lagi adalah keseriusan serta keberanian dalam menempuh jalan pembangunan yang akan berdampak luas dan
positif bagi bangsa Indonesia.
Semangat Persatuan dan Kesatuan Motivasi Bangsa
Merdeka !!!

By: paman Glendix

Sabtu, 14 Agustus 2010

Kunjungan AGK ke Motoling

Motoling – Dari data yang diolah dari beberapa sumber, menempatkan pasangan AGK-Fer sementara memperoleh 28.049 suara (26,28%), kunjungan di Desa Motoling 14 Agustus 2010 sudah di nantikan oleh warga Motoling khususnya di sekitaran Toko Dedi Motor terlihat kumpulan simpatisan AGK_FER untuk melihat langsung calon Bupati Minsel pilihan mereka.

Senin, 02 Agustus 2010

PEMILUKADA

 
-Paman Glendix Paat- 03 Agustus jam 13:53
Semua berharap Pemilukada berjalan dengan lancar dan Aman. Namun karena ini sebuah kompetisi yang menguras banyak duit pasangan calon, maka kecurangan sulit dihindari. Semua pasangan calon berharap menjadi yang paling unggul. Para tim sukses bekerja keras memenangkan pertarungan ini. Karena itu kecurangan menjadi realita yang mengancam terselenggaranya pemilukada yang jujur dan adil.



Kecurangan dapat dilakukan oleh siapa saja. Boleh jadi oleh peserta yang menghalalkan segala cara agar menang. Boleh jadi oleh penyelenggara yang tidak netral.



Tulisan ini mencoba memaparkan beberapa titik rawan kecurangan yang mungkin terjadi. Tentu saja yang terutama disebabkan oleh penyelenggara yang tidak netral dan upaya-upaya pemenangan yang tidak sah. Tujuannya agar semua pihak, terutama pengawas pemilukada, dapat lebih mawas melihat setiap tahapan proses yang dilalui.



Di mana saja titik rawan kecurangan tersebut dapat terjadi? Titik rawan pertama sangat mungkin terjadi ketika surat suara berada di TPS. Pemilukada ini penyaluran aspirasinya dilakukan dengan mencoblos salah satu gambar pasangan calon pada lembar surat suara. Penyaluran aspirasi dengan cara mencoblos, rentan terjadi kecurangan. Surat suara akan batal apabila terdapat dua coblosan pada lembar surat suara. Penyelenggara yang tidak netral dapat memanfaatkan ketentuan ini untuk memenangkan salah satu pasangan calon. Caranya sangat mudah, yaitu dengan menambah coblosan pada surat suara yang tidak memilih pasangan calon unggulan penyelenggara. Surat suara akhirnya menjadi batal atau tidak sah. Kecurangan seperti ini sangat sering terjadi di sepanjang pemilu zaman orba. Modusnya dengan menancapkan paku pada meja penyelenggara dan surat suara dengan mudah dapat ditambahkan coblosannya.



Selain menambah coblosan pada surat suara agar menjadi batal, di TPS juga sangat mungkin terjadi manipulasi pemilih. Caranya dengan mencoblos sisa surat suara tak terpakai. Jumlah surat suara tak terpakai sangat banyak, karena angka golput masih tinggi, setidaknya masih mencapai 30 hingga 35 persen. Angka golput yang tinggi menimbulkan kerawanan penyalahgunaan surat suara tak terpakai menjadi terpakai. Sekali lagi, penyelenggara yang tidak netral dapat dengan mudah melakukan kecurangan dan memenangkan salah satu pasang calon yang dia inginkan.



Kerawanan kecurangan lainnya di tingkat TPS adalah politik uang berbungkus perekrutan saksi dilingkungan TPS. Biasanya saksi direkrut antara satu atau dua orang saja. Kenyataannya, ada saja calon yang merekrut saksi melebihi jumlah yang hadir di TPS. Berdalih saksi bayangan yang jumlahnya hingga puluhan orang, melakukan provokasi secara halus di hari pencoblosan. Kecurangan yang biasa dilakukan para saksi ini adalah, dengan melakukan provokasi kepada petugas pada saat perhitungan, dan propaganda ajakan kepada pemilih lainnya. Saksi kritis terhadap perolehan suara calon lain, dan toleran terhadap perolehan suara calon yang membayar mereka. Misalnya apabila ada silang pendapat berkaitan sah tidaknya surat suara, maka calon yang memiliki saksi akan mendapat pembelaan agar hak atas perolehan suara tersebut berpihak pada mereka, atau kalau meragukan menjadi batal sama sekali.


Sekali lagi, titik rawan kecurangan ini menjadi nyata apabila para penyelenggara bersikap tidak netral, tidak jujur, berpihak pada salah satu pasangan calon. Pengawasan dan pemantauan memang harus dilakukan, tetapi yang lebih penting adalah memastikan integritas akan netralitas para penyelenggara. Sikap kritis semua pihak terhadap netralitas para penyelenggara dapat menjaga integritasnya untuk mengawal pemilukada ini tetap berlagsung dengan jujur, adil dan bisa dipertanggungjawabkan.

Segala bentuk kecurangan bisa terjadi, tapi apakah kita memilih Calon Bupati dan wakil Bupati, atau calon Gubernur dan Calon wakil Gubernur yang kita anggap layak menduduki posisi untuk memimpin daerah kita SULUT dan Kabupaten MINSEL? itu semua tergantung dari hari nurani kita masing2....
Harapan saya yaitu semoga PEMILUKADA yang sementara berlangsung ini bisa terlaksana dengan Aman dan terkendali.....
MOTOLING
http://www.facebook.com/paman.glendix